Friday, March 13, 2009

OKB (Orang Kaya Bodoh atau Orang Kaya Baru)

Kehidupan bagaikan roda yang berputar, hari ini kita dibawah hari esok kita bisa diatas. Tapi semuanya itu tidak datang begitu saja, dibutuhkan upaya dan jerih lelah. Terkadang ada orang yang merasa bahwa upaya dan jerih lelah mereka ini patut dihargai kelak jika mereka sudah berhasil dan hal itu sangatlah wajar. Penghargaan kepada diri sendiri adalah hal wajib bagi mereka yang sudah berusaha dari setiap titik dalam kehidupan mereka untuk memperoleh apa yang sekarang mereka bisa raih . Tapi dalam bentuk realita, sering kali penghargaan akan diri sendiri ini bertumbuh melewati batas kewajaran. Mata saya ini melihat sendiri bagaimana sebuah keluarga kecil berjuang dari titik nol sampai titik puncak dalam kehidupan mereka. Sangatlah mengharukan jika saya mengingat bagaimana keramahan dan kerendah hatian mereka saat masih berada di titik nol dan sangatlah mengejutkan jika saya melihat sekarang bagaimana kesombongan dan ketamakan mereka yang sudah berada di titik puncak. "Mumpung sekarang masih ada uang, mari kita gunakan semaksimal mungkin... Toh kita pun survive saat masih di titik nol dan bisa bangkit ke titik puncak makanya jika suatu saat nanti kita jatuh ke titik nol, kita mudah"an bisa bangkit lagi... At the mean time, mari kita memanfaatkan uang kita" mungkin pernyataan diatas yang ada di benak mereka atau mungkin bahkan menjadi prinsip hidup mereka. Seseorang yang dapat dikatakan OKB menurut saya adalah mereka yang mengalami kenaikan derajat hidup terlalu cepat dan belum terbiasa oleh kenikmatan-kenikmatan yang ditimbulkan olehnya sehingga dengan gelojohnya berusaha memenuhi hasrat akan kenikmatan tadi, singkat kata mereka ini kampungan. Jujur orang yang sudah 10-15 tahun kaya itu pasti berbeda gaya hidupnya dengan orang yang baru 5/3 tahun kaya. Makanya berbangga hatilah bagi mereka yang baru 5 tahun makmur bertingkah seperti mereka yang sudah 10 tahun menikmati harta materi itu. Kebanyakan orang kaya yang sudah makan asam garam dunia materi tidak segelojoh dan sebodoh orang kaya yang baru melihat rekening mereka yang memuncak. Bagi orang kaya baru, prioritas utama mereka adalah menonjolkan dan memamerkan segala kemampuan mereka dalam memenuhi hasrat materinya, sebagai contoh ada 5 mobil di garasi keluaran terbaru belum lagi ada 13 telepon genggam yang harganya diatas Rp. 5.000.000 . Sebaliknya orang kaya yang berpengalaman merasa segalah pemenuhan hasrat tadi bukan sebagai prioritas utama tapi apa yang dapat di berikan oleh hasrat tadilah yang penting, singkatnya mana lebih penting otak berisi atau mobil mewah? . Akhir kata, orang bisa menjadi sangat berbeda dan bodoh jika sudah dihadapkan pada uang yang tidak sedikit dan tampak menjanjikan.

Wednesday, March 11, 2009

Orang tua yang bodoh

Seorang gadis berponi memakai kemeja putih dan rok biru menaiki tangga Istana Plaza Bandung, mataku langsung tertuju pada benda kotak berbaju hijau ditangannya. Tak lama setelah mengamati benda itu, saya tau itu adalah sebuah telepon genggam dengan nama Blackberry selain itu saya juga mengenal baik jenis Blackberry yang digenggamnya, yaaa itu Blackberry Bold yang nilai belinya kisaran Rp. 8.OOO.OOO,OO . Hal pertama yang saya pikirkan adalah betapa canggihnya B.Bold itu sampai-sampai harganya menandingi harga notebook. Setelah itu saya sempat berpikir orang tua macam apa yang membelikan anaknya yang masih sangat lugu tadi sebuah alat canggih nan mahal seperti itu. Terbayangkan olehku orang tua yang menjemput anaknya dengan mobil paling sempurna di seantero Indonesia atau orang tua yang memang memiliki otak atau insting yang berlebihan mengenai barang mahal atau mungkin orang tua yang bahkan tidak memiliki otak dan insting akan cara mereka mendidik anaknya. Seorang anak abg tau jelas moto hidup mereka "Ask more more and more" dan sangat beruntung jika mereka berdampingan dengan orang tua yang prinsipnya "Give more is better". Tanpa perlu ditelusuri lebih dalam, orang tua seperti itu dapat dikatakan sebagai orang tua yang bodoh karena memeberikan asupan uang yang tidak tepat pada pertumbuhan anaknya. Tapi apa boleh buat, mungkin jika saya ditempatkan pada posisi sebagai orang tua yang kaya raya dan bingung uang yang saya peroleh ini musti dibuang kemana, pasti saya pun akan bertindak sebodoh itu. Dalam kehidupan nyata hal itu memang sering terjadi, tapi saya sering menemui orang tua yang sangat bijaksana dan kaya yang sangat berbanding terbalik dengan orang tua yang bodoh ini. Akhir kata, hidup ini akan sangat sulit bagi anak-anak yang memiliki orang tua yang bodoh karena apa yang mereka miliki sekarang belum tentu dapat mereka raih kelak jika orang tua sudah tidak mau menanggung pengeluaran mereka.